Read 69 Things To Be Grateful About Being Single by Feby Indirani Online

69-things-to-be-grateful-about-being-single

69 adalah angka yang sering dikaitkan dengan posisi seksual, namun angka itu juga adalah taijitu, yaitu simbol dari yin dan yang, yang mewakili konsep berlawanan untuk mencapai kesimbangan. Segalanya memiliki pasanan yang merupakan lawan dari dirinya, atas-bawah, terang-gelap, maskulin-feminin, dan sebagainya. Menjadi lajang—di dunia yang menggadang-gadang orang berpasanga69 adalah angka yang sering dikaitkan dengan posisi seksual, namun angka itu juga adalah taijitu, yaitu simbol dari yin dan yang, yang mewakili konsep berlawanan untuk mencapai kesimbangan. Segalanya memiliki pasanan yang merupakan lawan dari dirinya, atas-bawah, terang-gelap, maskulin-feminin, dan sebagainya. Menjadi lajang—di dunia yang menggadang-gadang orang berpasangan—kerap tak mudah karena sering dianggap sebagai suatu kekurangan atau bahan tertawaan. Buku ini adalah hadiah bagi perempuan lajang, sebuah ajakan untuk tersenyum, berkontemplasi, dan juga menertawakan diri sendiri. Being single is not always happy, but there`s always something to be grateful....

Title : 69 Things To Be Grateful About Being Single
Author :
Rating :
ISBN : 9786020377148
Format Type : Paperback
Number of Pages : 144 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

69 Things To Be Grateful About Being Single Reviews

  • Hestia Istiviani
    2018-11-24 15:29

    Promosi yang digencarkan untuk buku ini cukup efektif. Terbukti, jika mencari di kolom pencarian media sosial Twitter dengan tagar tertentu, maka akan muncul hasil kicauan warganet tentang bahagianya mereka menjadi seorang lajang. Hal ini sebagai bentuk perlawanan akan bagaimana sebagian besar masyarakat kita masih saja mendiskriminasikan mereka yang masih lajang ataupun yang memilih untuk melajang. Tetapi, buku ini bukan dari kicauan tersebut. Feby Indirani sudah memiliki gagasan tersebut. Dalam pengantar, ia pun menuliskan bahwa buku ini adalah hadiah untuk para lajang, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Feby Indirani mengajak Emte untuk berkolaborasi. Mempercantik bukunya itu dengan ilustrasi khas Emte. Jadilah, sebuah buku yang rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.Sebagaimana dituliskan dalam judul, buku ini berisi 69 hal tentang menjadi lajang yang perlu disyukuri oleh mereka. Sekaligus menjadi sebuah energi positif untuk mereka yang kerap dijadikan bulan-bulanan oleh sekelilingnya. Feby Indirani menuliskan itu semua dengan lugas, terus terang. Membuat pembaca yang bahkan sudah menikah, bisa saja memiliki pendapat berbeda (dengan pembelaan bahwa menikah adalah ....). Ya, bagi beberapa orang tulisan-tulisannya cukup provokatif.22. Lajang umumnya berpenampilan lebih menarik ketimbang yang sudah menikahYang seperti itu misal, bisa menimbulkan pendapat bahwa dirinya yang sudah menikah pun juga tetap berpenampilan menarik. Menarik untuk siapa lagi kalau bukan untuk pasangan supaya ia memiliki istri seperti dirinya itu. Memang, tidak semua kontennya bisa memicu ujaran-ujaran seperti di atas. Ada pula, tulisan yang memotivasi para lajang.61. You know you have a standard and you don't sell yourself short.Dengan kata lain, Feby ingin menyampaikan bahwa menjadi lajang karena mereka memiliki standar sendiri dalam memilih pria merupakan hal yang tidak perlu dipikirkan. Feby mengajak pula pembaca untuk memahami bahwa setiap orang punya cara pandangnya sendiri dalam memilih pasangan, yang juga termasuk mengapa mereka memilih untuk melajang.Sayangnya, konten yang diterbitkan berwarna ini lebih banyak memicu pemikiran-pemikiran bahwa wanita yang sudah menikah, didefinisikan oleh kondisi pasangannya. Ambil contoh yang seperti ini:27. You don't let anyone define who you areLazim terjadi di masyarakat kita, perempuan didefinisikan berdasarkan status hubungannya. Nyonya Jaka, padahal namanya Ratna. Nama seorang perempuan yang sudah disandangnya puluhan tahun bisa luntur begitu saja setelah ia menikah.....Tidak bisa dipungkiri, begitulah keadaan yang ada di Indonesia. Di masyarakat kita. Akan tetapi, mereka yang sudah menikah pun tetap bisa mendefinisikan siapa dirinya tanpa bergantung dengan pasangannya. Menjadi wanita mandiri dan utuh yang tidak akan luntur oleh status hubungannya.Padahal, buku ini bisa menjadi sebuah buku "motivasi" untuk mereka yang melajang supaya lebih terdorong untuk mengeksplorasi dirinya tanpa harus "meledek" pihak lain.

  • Wardah
    2018-11-22 15:24

    Dari judul, saya berharap mendapatkan banyak tips atau kegiatan postif yang bisa dilakukan seorang lajang. Memang saya menemukannya, seperti bisa menghabiskan waktu bersama orang tua, menyalurkan hobi, tidak perlu terjebak pada hubungan yang tidak sehat (tentu saja saya setuju banget), dll. Ditambah dengan ilustrasinya yang SUPER CANTIK, buku ini jelas cantik bangetlah.Sayangnya, banyak juga konten yang membuat saya mengernyit.Ada konten yang bagi saya absurd banget, yaitu jadi lajang bisa kentut sesukanya. Lha emangnya kalau udah punya pasangan nggak bisa? Saya mah emoh banget kalo punya suami yang nggak ngebolehin saya kentut di depannya. Itu absurd banget! Kentut kan fitrah. Masa kudu ditahan dulu terus ngacir ke kamar mandi? Sangat tidak efisien!Konten lain yang tidak saya suka adalah konten-konten yang menyudutkan mereka yang sudah berpasangan. Semacam "Hei, kamu lajang, bisa ngelakuin ini-itu tanpa harus ngurusin anak/suami/mertua/keluarga ipar/dll kayak mereka yang udah punya anak/suami/mertua/keluarga ipar/dll". Kenapa harus membandingkan kebahagiaan dengan mereka yang memilih jalan yang berbeda?Saya percaya kita, perempuan apalagi, bisa mendapat kebahagiaan tanpa harus punya pasangan. Saya bisa mendapat kebahagiaan dari es krim yang sesukanya saya beli, buku-buku yang saya baca, hobi-hobi saya yang lain. Terlepas dari banyaknya orang yang sudah bertanya "kapan" pada saya, pada akhirnya saya selalu percaya bahwa bahagia berasal dari dalam diri sendiri. Nah, ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan akan bertambah ketika sudah punya pasangan. Ada juga yang tidak ingin memiliki pasangan, yang saya yakin punya alasan dan pilihan sendiri. Namun, apakah menyerang pihak yang berbeda pendapat bisa membuat kita semakin bahagia? Saya tahu sebagai lajang, kita sering diserang, dinyinyirin, dibilang tidak bahagia kalau belum punya pasangan. Akan tetapi itu bukan alasan untuk menyerang balik mereka yang sudah berpasangan, kan?Saya kecewa berat pada banyak konten di buku ini. Saya berharap mendapatkan banyak usul kegiatan positif yang bisa saya kerjakan sebagai seorang lajang. Sayangnya, hal itu tidak saya dapatkan sama sekali.Satu bintang tetap saya persembahkan untuk ilustrasinya yang cantik!

  • Aya
    2018-11-26 11:40

    Bagi kalian yang sudah menikah sebaiknya jangan baca buku ini kalau ga mau merasa tersinggung :DGue kurang setuju dengan pemilihan kalimat yang digunakan penulis. Membela satu golongan dengan menjelekkan golongan lain sepertinya bukan cara yang sehat untuk dibagikan ke khalayak.Sekarang gue ngerti kenapa salah satu temen booktuber kurang setuju. Karena gue juga merasakan hal yang sama. Akan lebih baik kalau penulis lebih menggali fakta-fakta lain untuk disodorkan dibanding menjelekkan golongan yang sudah menikah, karena kita ga bisa pukul rata semua orang akan bersikap seperti itu.Ilustrasi-nya sendiri bagus banget. Sayang, tidak dibantu dengan narasi yang menguatkan.

  • Nisa Rahmah
    2018-12-09 14:41

    Pada kodratnya, seorang wanita akan menjalani tiga fungsi sosial, yakni sebagai anak, sebagai istri, dan ibu. Namun kenyataannya, tidak/belum semua orang mendapat kesempatan untuk menjalankan tiga fungsi tersebut. Ada beberapa wanita yang memilih untuk tetap sendiri dengan berbagai macam pertimbangan. Ada pula yang memiliki niat untuk berumah tangga dan menjalankan ketiga fungsi itu secara bersamaan, tapi belum menemukan jodohnya. Dan ada yang sedang menjalani ketiganya. Ada di posisi mana pun seorang wanita, tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Selayaknya sebagai makluk sosial, seseorang tidak berhak mengomentari posisi dan kondisi seseorang lainnya. Bukankah idealnya demikian?Namun, tentu pada realitanya, banyak sekali orang di luar sana yang mendiskreditkan seseorang yang masih lajang di usia produktif pernikahan. Sementara teman sebaya sudah memiliki momongan dalam bilangan satu, dua, atau bahkan tiga, dia masih saja sendiri. Entah karena pilihan, atau memang belum menemukan the right one, atau sudah berpisah dari pasangan. Lantas, sebagai "tersangka", apa yang seharusnya wanita itu lakukan? Apakah menyinyir balik ke orang yang mengata-ngatai si lajang dengan memberikan rentetan (kemungkinan) kekurangan yang ada pada posisi si penyinyir?Ehem, sebagai seorang yang lajang yang beberapa tahun lagi berkepala tiga, saya tentu sering mendapatkan pertanyaan atau bahkan pernyataan nyinyir tentang status yang belum menikah-menikah juga. Awalnya memang panas, tapi lama-kelamaan jadi biasa saja. Kalau ditanya kapan nikah, jawab aja dengan santai, "Kalau bukan hari Sabtu, ya Minggu," sambil kibas tangan dengan anggun. Biasanya mereka yang bertanya itu tidak sedang kepo, mungkin hanya mencari bahan pembicaraan saja. Jadi, jangan terlalu dipikirkan. Hidup kita terlalu berharga untuk menanggapi hal-hal kontraproduktif yang demikian. Benar, kan? Setuju? Setuju saja deh.Lantas, sebagai seorang single yang (sebenarnya nggak butuh-butuh amat) ingin mendapat "penguatan" alias "dukungan" dengan posisinya yang masih lajang, muncullah ekspketasi saat hendak membaca buku ini. Apakah isinya akan memberikan penyemangat atau setidaknya membuat menjadi grateful akan status single tersebut? Semacam to do list agar bahagia, atau kiat-kiat menghadapi tetangga usil yang selalu kepo dengan kehidupan percintaan kita (tapi tentu dengan cara yang elegan)? Nyatanya, saya tidak mendapatkan kesan itu setelah membacanya. Yang saya temukan dalam buku ini, justru kalimat "motivasi" yang menjurus pada menyerang wanita lain yang tidak lajang. Bahwa orang yang masih sendiri bisa nge-flirt pria tampan yang naksir kita, bahwa wanita lajang hidupnya bebas; bebas ngentut tanpa harus malu, bebas tidur semaunya, bebas menentukan hidup, bebas membelanjakan penghasilan, dan lain-lain. Ada pula pernyataan tentang wanita lajang lebih cantik ketimbang yang tidak lajang. Saya jadi bingung, buku ini mau di bawa ke mana. Ada bagian yang nyinyir wanita berkeluarga, tapi di sisi lain sedih (dan terkesan iri) dengan kehidupan mereka. Dan ujung-ujungnya, berharap menemukan seseorang untuk mengakhiri masa lajang. Jadi... bagaimana?Walaupun ada bagian-bagian yang membuat saya mengerutkan dahi, tapi ada poin-poin yang harus saya sepakati juga. Misalnya tentang beban tanggung jawab yang terbatas pada diri sendiri, bebas karena merasa masih sendiri, bebas menentukan pilihan, bebas mengeksplorasi banyak hal yang mungkin akan terhambat saat berkeluarga nanti. Meskipun, jangan lupa, walau seseorang itu masih lajang, dia juga sedang menjalani peran sebagai anak dari orangtuanya. Satu lagi. Ilustrasi dalam buku ini... JUARA! LIMA JEMPOL UNTUK ILUSTRASINYA YANG CANTIK <3Pada akhirnya, saya menutup ulasan ini dengan sebuah kalimat: "Majulah tanpa menyingkirkan orang lain, naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain, berbahagialah tanpa menyakiti orang lain."Mari kita berbahagia bersama, kurang-kurangilah menyindir kehidupan orang lain (yang kita tak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan kehidupan mereka). Yang memilih untuk lajang, berbahagialah. Yang masih lajang karena menunggu jodoh yang tepat, semoga disegerakan, dan isilah episode lajang dengan melakukan hal-hal produktif sebaik-baiknya, dan sebahagia-bahagianya. Yang sudah berkeluarga, berbahagialah. Sebuah peradaban besar dimulai dari keluarga.

  • Lisna Atmadiardjo
    2018-12-08 16:45

    Satu pertanyaan yg belum terjawab setelah 69 alasan, bisakah kita bersyukur untuk menjadi lajang tanpa perlu membuat perbandingan-perbandingan dengan yg sudah menikah?

  • Marina
    2018-11-21 10:29

    ** Books 275 - 2017 **2,4 dari 5 bintang! Sebenarnya penasaran dengan isi bukunya namun dibuat kecewa karena isinya tidak sesuai dengan harapan dan hanya dihiasi ilustrasi-ilustrasi cantik yang saya berikan tambahan 0,4 bintang untuk buku iniTerimakasih Scoop Premium!

  • Natha
    2018-11-13 09:40

    Buku yang bisa bikin kamu senyum. Setidaknya saat aku membaca, aku menghabiskan beberapa poin-poin dengan senyum-senyum sendiri. Ilustrasinya juga cantik. Banget malah. :)) Terlepas dari kenyataan bahwa beberapa poin membandingkan keuntungan menjadi single dengan double atau triple, kurasa beberapa poinnya memang dirasakan sendiri oleh beberapa orang, walau tidak bisa digeneralisir. Tapi yang paling penting (untukku), buku ini membuatmu memikirkan ulang bahwa banyak yang bisa disyukuri saat kamu belum berpasangan, di dunia yang begitu mengagungkan manusia yang berpasangan. Dan dibandingkan membandingkan dirimu dengan teman-temanmu, kurasa bersyukur justru lebih penting. :3Well, siapa yang takut menjadi single? *grin*

  • Tsaki
    2018-12-06 11:20

    4.5 bintang buat gambar Emte yang keren banget.1.5 bintang buat kontennya.

  • Astrini Adisoma
    2018-11-26 14:37

    Unlike most reviews that say this book is disappointing because it seems to discredit married couples, I say that this book actually does the opposite. It helps single people take pride in their status that is actually often discredited in the first place by society nowadays, where the majority of people think their self-worth is determined by their relationship status. In Indonesian society-at least according to my observation-many young people have developed this twisted concept of marriage/relationships. For some reason a lot of people think being single is considered sad and pathetic, therefore many people try to 'pedekate' any opposite gender just so they aren't seen as 'jomblo' or lonely, or race to the altar even though the person beside them might not be the right one for them, just so they feel like they have a purpose in life, or my personal favorite: "biar cepet halal".Feby Indriani's book reminds us that unlike what society tries to dictate to us, being single doesn't have to mean you're pathetic and lonely. It reminds us that relationships aren't everything and that we should love and enjoy time with ourselves while we still can. Remember, a lot of people are single because they choose to be. Maybe a relationship is just not for them. For some people, maybe it's simply because they need to love themselves before being able to love someone else.For all the singles out there who are tired of being ridiculed, belittled, or satirized for their "singleness" by a society that endlessly worships relationships and marriage, this book might be for you. To fully enjoy this book, just add a hint of salt and you're good to go ;)

  • Faizah Aulia R
    2018-12-07 09:44

    kukira isinya bakal banyak advantages untuk belajar A-Z, belajar ini, belajar itu, dlltapi ternyata (inimah setangkep aku ya) malah berasa mendisreditkan orang2 yang udah menikah, simpelnya, "lu ga bahagia deh kalo nikah, kalo lajang bisa ini itu" , which is kata Faizah ............ nonsense.Dengan membandingkan bahwa kalo lo udah nikah gabisa deh a b c d yang jadi parameter bahagia si penulis (si penulis loh yaa, bukan keseluruhan), yaa sangat subjektif, padahal belom tentu juga orang yang nikah ngerasain hal yang sama.Oke, mungkin beberapa waktu akan saling mencemburui (yang udah nikah dan yang belum nikah), tapi kan balik lagi ke peran masing2. Yang udah nikah ya perannya mau gamau jadi istri dan jadi ibu, seiring berjalannya waktu bakal nikmatin perannya. Yang belum nikah ya perannya jadi anak untuk orantuanya dulu, sebelum beralih peran, ya mau gamau harus nikmatin perannya juga.Dengan cap bahwa "kalo nikah gabisa gini gitu, gaakan bahagia deh", seolah2 nikah teh mau cari bahagia. Yaaaa, orang single juga bisa aja ga bahagia, masing2 ada ujiannya. Ya kalo gamau ada ujian mah tong hirup weh sakalian *maap salty* WQ.Gitu lah pokonya.Buat Faizah mah selama masih single nikmatin aja dengan banyak berbakti sama orang tua, belajar banyak banyak, yang banyaaaakkkk banget belajarnya. Pokonya belajar ini itu. Sekian.BTW, ilustrasinya juaraaakk, suka banget

  • Citra Rizcha Maya
    2018-11-17 17:44

    Pastilah buku ini sengaja dibuat untuk menyenangkan saya. Ilustrasinya kece punya dan yeah Feby saya setuju untuk mensyukuri ke-69 hal tersebut. Dan saya tertawa jahat untuk no 14. Saya pernah melakukan hal tersebut!Pada dasarnya untuk cewek egois yang phobia komitmen macam saya mungkin menjadi single adalah keadaan terbaik, walau jelas kala PMS melanda, saya butuh phennylethilamine dari coklat untuk mendapatkan rasa jatuh cinta buatan. Eh!Buku ini akan tepat sekali dibaca kala mendapat undangan pernikahan dari kerabat, teman, adik kelas, atau mantan pacar. Menghibur dengan cara yang segar, manis, dan sedikit sinis.

  • Dian Shinta
    2018-11-27 17:33

    Dua bintang hanya untuk gambar ilustrasi di dalamnya. Bagus!Saya sangat tertarik dengan buku ini karena judul dan covernya. Budaya yang masih memojokkan orang-orang dengan berbagai pertanyaan berawalan kata "kapan", terlebih tentang kapan nikah, buku ini sebetulnya bisa jadi buku motivasi. Tapi kok saya ngga merasa termotivasi ya? HahahaSaat melihat isinya sekilas dan lanjut membacanya, pendapat saya: ini buku lebih ditujukan untuk wanita lajang yang sudah sangat "dipepet" oleh orang sekitar. Ada beberapa hal di dalamnya yang saya kurang setuju.Buku ini dibaca hanya kurang dari 10 menit. Dan tidak meninggalkan kesan apapun, kecuali ilustrasi gambar yang bagus. 😢

  • Mpur Chan
    2018-12-07 16:30

    Saya suka sekali dengan ilustrasinya yang cantik dan berwarna.Tapi, tidak untuk kontennya. Sorry to say. Yang saya tangkap ketika membaca buku ini adalah hiburan buat para single. Bagus memang idenya. Namun saya kecewa karena saya tidak mendapat hal positif. Justru yg saya dapat adalah hal sindiran dan sinis buat yang sudah menikah, sehingga saya justru menjadi kasihan dengan para single. Harus menghibur diri dengan memandang negatif orang yang sudah punya pasangan.

  • Bina Izzatu Dini
    2018-12-09 11:46

    Bacanya karena iseng iseng aja, nemu di koleksi ipusnas. Ternyata ilustrasinya bagus. Terutama bagian menyatukan dua keluarga besar (ilustrasi no 10).Yah sambil kontemplasi juga sih akhirnya: oh ternyata begini ya, oh ternyata begitu ya. Bacaan ringan penuh makna yang cukup menarik! Eh tapi kontennya gabisa ditelan mentah-mentah sih, ada lumayan banyak poin yang saya kurang setuju. Jangan terlalu diambil hati juga hehe.

  • Stefanny Natalia
    2018-11-29 15:34

    suka banget sama illustrasinya. untuk kontennya sebenernya cukup menyenangkan, cuma ada beberapa yg saya kurang setuju,karna kurang cocok dengan budaya di sini (padahal penulisnya orang Indo) . dan juga saya merasa penulisannya mengarah ke "mengejek" wanita yg sudah berpasangan... jadi selama membacanya ,saya selalu menjaga mindset saya supaya gak terlalu terpengaruh juga,karna pada akhirnya setiap wanita akan datang masa "panggilan" untuk memiliki pasangan dan membina sebuah keluarga.

  • Ossy Firstan
    2018-11-27 09:36

    Saya suka sekali ilustrasi di buku ini. Menarik dan cantik banget.Buku ini membuat saya semakin bersyukur menjadi single dan terus ingin menjadi single. >.<Sayangnya, ada beberapa hal yang kurang saya sukai di sini, mungkin karena kurang sependapat saja. Terutama kegiatan membanding-bandingkan lajang dan in relationship yang terlihat agak menyudutkan. Sekali lagi, suka sekali ilustrasinya ^^

  • sakuramochi
    2018-11-14 10:25

    Beberapa relatable, beberapa cuma komen sarkastis yang tidak koheren karena beberapa nomor mengindikasikan lajang harus pura-pura terlihat bahagia, tapi yang lain mendorong untuk menghargai diri sendiri. Mau lajang atau menikah, setiap orang bisa memilih untuk bahagia.

  • Ririn
    2018-12-07 15:34

    2 bintang isinya, 6 bintang ilustrasinya.Gileeee... emte ngeluarin buku kumpulan ilustrasi ngga sih? I'd buy the shit out of THAT book.and judulnya bukan harusnya 69 things to be grateful for being single ya?

  • Aiko
    2018-11-24 10:46

    Having just finished Feby's other book, Bukan Perawan Maria, I'm questioning everything about this book. It's like a Buzzfeed article in a book format, so yeah. The illustrations are AMAZING though. I am seriously considering ripping off my favorites and using them as decoration!

  • Maghfira Aulia
    2018-11-28 11:18

    Ilustrasinya sedap

  • Dion Yulianto
    2018-11-17 14:26

    Ilustrasi MT memang josssssss

  • Teguh Affandi
    2018-12-01 13:33

    Isinya masih bisa diperbedatkan. Perlu sudut pandang berimbang, misalkan dari pihak yang sudah punya pasangan. Karena sepertinya penulis terlalu fokus ke yang sudah menikah. Yang punya kekasih, pacar??Isinya masih biasa saja.Tapi yang luar biasa adalah ilustrasinya.

  • B-zee
    2018-12-06 11:37

    Saya sering melihat promosi buku ini di sosial media, tapi sayangnya lupa tidak menengok review di Goodreads. Tapi membaca buku ini tidak butuh waktu lama, dan ilustrasi sepadan untuk waktu yang dihabiskan untuk membalik halaman-halamannya.Saya bertanya-tanya, sebenarnya buku ini ditujukan untuk siapa? Karena para lajang yang sudah dewasa saya rasa tidak memerlukan hal ini, sementara isinya juga tidak sepenuhnya relevan untuk para dewasa muda, apalagi remaja. Hal-hal semacam lebih sedikit stres, lebih bebas (termasuk bebas ambil cuti kapan saja, ha), tidak ada tanggung jawab, dan sebagainya itu bukan sesuatu yang universal untuk para lajang. Pun rasa terkekang, terkungkung kegiatan harian, tidak sempat mengurus diri sendiri, juga tak universal untuk para wanita menikah atau ibu-ibu.Sedikit berpikir positif, judul buku ini adalah 69 hal yang 'bisa disyukuri', jadi bisa saja satu dua hal menjadi pengingat kita untuk mensyukuri apapun kondisi saat ini. Namun, tetap saja, menjadi single ataupun menikah itu bukan sesuatu untuk diagung-agungkan. Itu adalah bagian dari jalan hidup yang tak pernah sama bagi setiap orang, dan setiap orang, apapun statusnya, bisa merasakan emosi dan perasaan apapun di dalam hidupnya.